Showing posts with label Hubungan Pola Asuh Keluarga Dengan Terjadinya Depresi Pada Remaja. Show all posts
Showing posts with label Hubungan Pola Asuh Keluarga Dengan Terjadinya Depresi Pada Remaja. Show all posts

Tuesday, October 23, 2012

BAB II (Belum Revisi)


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1        Konsep Pola Asuh Keluarga
         Pola asuh adalah pola orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya dalam memenuhi kebutuhan, memberi perlindungan dan mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari (Baumrind, 2003). Sedangkan menurut Maichati (dalam Sayuti, 1993) menjelaskan bahwa pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Sikap tersebut meliputi cara orangtua dalam memberikan aturan-aturan dalam kehidupan sehari-hari.
         Pola asuh orang tua adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga, merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi positif atau negatif (Lien Laura, 1989).
         Para ahli mengemukakan (Gunarsa dan Gunarsa, 1995; Helm dan Turner, 1995; Papalia, Olds dan Feldmand, 1998) mengemukakan bahwa pola asuh dari orang tua amat mempengaruhi keperibadian dan perilaku anak. Baumrind, ahli psikologi perkembangan membagi pola asuh orang tua menjadi 3 yakni otoriter, permisif, dan demokratis:
1.    Pola asuh otoriter (parent oriented). Ciri-ciri dari pola asuh ini, menekankan segala aturan orang tua harus ditaati oleh anak. Orang tua bertindak semena-mena, tanpa dapat dikontrol oleh anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa yang diperintahkan oleh orang tua. Dalam hal ini, anak seolah-oleh menjadi “robot”, sehingga ia kurang inisiatif, merasa takut, tidak percaya diri, pencemas, rendah diri, minder dalam pergaulan; tetapi disisi lain, anak bisa memberontak, nakal, atau melarikan diri dari kenyataan, misalnya dengan menggunakan narkoba (alchohol or drug abuse). Dari segi positifnya, anak yang didik dalam pola asuh ini, cenderung menjadi disiplin yakni mentaati peraturan. Akan tetapi bisa jadi, ia hanya mau menunjukkan kedisiplinan dihadapan orang tua, padahal di hatinya berbicara lain, sehingga ketika di belakang orang tua, anak bersikap dan bertindak lain. Hal itu tujuannya semata hanya untuk menyenangkan hati orang tua. Jadi anak cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu.
2.   Pola asuh permisif. Sifat pola asuh ini, childreen centered yakni segala aturan dan ketetapan keluarga ditangan anak. Apa yang dilakukan anak diperbolehkan orang tua. Orang tua menuruti segala kemauan anak. Anak cenderung bertindak sewena-wena, tanpa pengawasan orang tua. Ia bebas melakukan apa yang diinginkan. Dari sisi negatif lain, anak kurang  disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku. Bila anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab, maka anak akan menjadi seorang mandiri, kreatif, inisiatif dan mampu mewujudkan aktualisasinya.
3.   Pola asuh demokratis. Kedudukan antara anak dan orang tua sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan memperhitungkan kedua belah pihak. Anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak tetap harus berada dibawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Orang tua dan anak tidak dapat berbuat sewena-wena. Anak diberi kepercayaan dan dilatih untuk mempertanggung jawabkan tindakannya. Akibat positif dari pola asuh ini, anak akan menjadi seorang individu yang mempercayai orang lain, bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya, tidak munafik, jujur. Namun akibat negatif, anak akan cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua, kalu segala sesuatu harus dipertimbangkan antara anak-orang tua.
4.   Pola asuh situasional. Dalam kenyataannya, sering kali pola asuh tersebut ditetapkan secara kaku, artinya orang tua tidak menetapkan salah satu tipe pola asuh tersebut. Ada kemungkinan orang tua menerapkan secara fleksibel, luwes dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung pada saat itu. Sehingga sering kali munculah, tipe pola asuh situasional. Orang yang menerapkan pola asuh ini, tidak berdasarkan pada pola asuh tertentu, tetapi semua tipe tersebut diterapkan secara luwes.
        Sedangkan menurut E.B.Hurlock dalam Ihromi (2004), pola sisialisasi yang digunakan orang tua dalam mengasuh anak-anaknya adalah :
1.   Otoriter: anak tidak memperoleh kesempatan untuk mengendalikan perbuatan perbuatannya.
-          Orang tua memiliki kaidah kaidah dan peraturan yang kaku.
-          Setiap pelanggaran dikenakan hukuman.
-          Sedikit sekali atau tidak pernah ada pujian atau tanda tanda yang membenarkan tingkah laku anak apabila mereka melakasanakan aturan.
-          Tingkah laku anak dikekang secara kaku, tidak ada kebebasan berbuat kecuali sudah ditetapkan.
-          Orang tua menentukan bagaimana harus berbuat.
2.   Demokratis: Orang tua yang demokratis adalah orang tua yang berusaha untuk menumbuhkan kontrol diri dalam diri anak.
-          Orang tua menggunakan diskusi, penjelasan dan alasan yang membantu anak mengerti ia diminta mematuhi aturan.
-          Orang tua menekankan aspek pendidikan ketimbang aspek hukuman.
-          Hukuman tidak pernah kasar, dan hanya diberikan apabila anak sengaja menolak perbuatan yang harus ia lakukan.
-          Apabila perbuatan anak sesuai dan patut, orang tua memberi pujian.
3.   Permisif: pada pola ini pengawasan sangat longgar.
-          Orang tua bersikap membiarkan atau mengizinkan setiap tingkah laku anak.
-          Tidak pernah memberi hukuman.
-          Membiarkan anak mencari dan menemukan sendiri tata cara yang memberi batasan-batasan dari tingkah lakunya.
-          Pada saat terjadi hal yang berlebihan barulah orang tua bertindak.

Sedangkan menurut Maurice (1999), kesalahan orang tua menghadapi anak remaja adalah :
1.   Keterampilan orang tua mengasuh anak secara bebas/memanjakan.
Melihat masa remaja sebagai satu periode pemberontakan yang terhindarkan dan orang tua hanya memiliki sedikit kemampuan untuk mempengaruhi anak-anak belasan tahun, maka orang tua menerima dan memaafkan saja anak-anak muda yang berperilaku tidak bertanggung jawab. Orang tua yang serba membolehkan, menghindari konflik, karena mereka merasa tidak berdaya untuk mempengaruhi anak-anak. Akibatnya orang tua membiarkan saja aktivitas, seperti penyalahgunaan akkohol, obat-obatan terlarang, tidak menghormati wibawa, hak dan milik orang lain, kekejaman dan perlawanan. Kaum remaja mengartikan pendekatan yang serba boleh itu sebagai undangan untuk dapat berbuat semaunya. Orang tua kehilangan harga di mata anak-anak, karena mereka menganggapnya orang tua yang tidak berdaya, tidak cakap, memberikan bimbingan serta tidak mampu memelihara kesatuan dalam keluarga. Anak mulai kehilangan rasa hormat pada orang tua, tidak menghargai mereka dan menanti saja hingga anak-anak belasan tahun cukup tua untuk meninggalkan rumah.


2.   Keterampilan orang tua mengasuh anak secara otokratis.
Orang tua mempunyai kepercayaan bahwa orang tualah yang bertanggung jawab atas perilaku anak-anaknya; dapat bersikap begitu bila orang tua lebih efektif sebagai orang tua, dan anak remaja akan selalu berperilaku baik, orang tua yakin anak belasan tahun akan berpaling ke cara orang tua yang menghendaki dan ini merupakan tugas orang tua, untuk melaksanakan keyakinan, nilai-nilai, perilaku dan standar pada anak-anak remaja mereka. Orang tua yang bersifat memaksa mungkin pada awalnya berhasil selama anak menjelang remaja, namun anak-anak remaja sadar bahwa mereka memiliki kekuatan untuk bertahan, tidak akan bekerja sama dengan orang tua dan mulai mempraktikkan kekuatan itu dalam hal misalnya merokok, membolos sekolah, memilih teman, alkohol, menonton TV, dan aktivitas waktu senggang. Meningkatnya upaya orang tua untuk mengawasi anak-anak remaja melalui metode paksaan hanya mengandung perlawanan dan penarikan diri dan kerja sama.
Semua poroblem yang melibatkan orang tua dan anak berasal dari kesalahan relasi. Saling menghormati dan percaya membentuk relasi yang efektif di masyarakat zaman sekarang. Ciri-ciri relasi berdasarkan kesamaan dijelaskan oleh Dinkmeyer dan McKay dalam Maurice (1999) adalah sebagai berikut:
-          Saling memperlihatkan dan mengurus;
-          Empati terhadap masing-masing;
-          Berhasrat untuk mendengarkan satu dan yang lain;
-          Lebih melihat sifat yang bernilai dari pada kekurangannya;
-          Melaksanakan kerja sama dan keikutsertaan yang sama tingkatnya dalam memecahkan konflik.
-          Lebih baik mengungkapkan pikiran dan perasaan daripada menahan meledak menjadi kemarahan.
-          Saling mendukung dan menerima, bila orang tidak sempurna yang ada proses pertumbuhan,

2.1.1        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua.
           Ada kecenderungan orang tua untuk lebih menyukai atau lebih sering menggunakan pola tertentu, yang dalam penggunaannya dipengaruhi oleh sejumlah faktor (Ihromi, 2004).
1.      Menyamakan diri dengan pola sosialisasi yang digunakan oleh orang tua mereka. Bila orang tua menganggap bahwa pola asuh orang tua mereka baik maka ketika mempunyai anak mereka kembali memakai pola asuh yang mereka terima. Bila menganggap pola asuh orang tua mereka dulu salah, biasanya mereka memakai pola yang berbeda. Misal dulu ia menerima pola asuh yang otoriter dari orang tua mereka, sekarang mereka menggunakan pola yang demokratis atau permisif pada anak-anaknya.
2.      Menyamakan pola yang dianggap paling baik oleh masyarakat sekitarnya, biasanya oleh orang tua yang masih muda dan kurang berpengalaman.
3.      Usia dari orang tua. Orang tua yang usianya masih muda cenderung memilih pola yang demokratis atau permisif dibandingkan mereka yang lanjut usia.
4.      Kursus-kursus. Orang dewasa telah mengikuti kursus persiapan perkawinan, kursus kesejahteraan keluarga atau kursus pemeliharaan anak akan lebih mengerti tentang anak dan kebutuhannya, sehingga cenderung menggunakan pola asuh demokratis.
5.      Jenis kelamin orang tua. Pada umumnya wanita lebih mengerti tentang anak oleh karena itu lebih demokratis terhadap anaknya dibanding pria.
6.      Status sosial ekonomi juga mempengaruhi orang tua dalam menggunakan pola sosialisasi mereka bagi anak-anaknya.
7.      Konsep peranan orang tua. Orang tua yang tradisional cenderung lebih menggunakan pola yang otoriter dibanding dengan orang tua yang lebih moderen.
8.      Jenis kelamin anak. Orang tua juga memberikan anak-anak mereka seseuai dengan jenis kelaminnya, misalnya terhadap anak perempuan, mereka harus menjaga lebih ketat sehingga menggunakan pola otoriter, sedangkan anak laki-laki cenderung lebih permisif atau demokratis, atau mungkin juga sebaliknya.
9.      Usia anak. Pada umumnya pola yang otoriter sering digunakan pada anak-anak kecil, karena mereka belum mengerti secara pasti mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga orang tua lebih sering memaksa atau menekan.
10.  Kondisi anak. Bagi anak-anak yang agresif, lebih baik menggunakan pola sosialisasi yang otoriter, sedang anak-anak yang mudah merasa takut dan cemas lebih tepat digunakan pola yang demokratis.

2.1.2        Tugas-tugas keluarga (orang tua) dengan anak remaja.
            Menurut Josephson (2003) orang tua memerlukan perencanaan; sebuah strategi yang diterapkan dan realistis untuk membantu orang tua dalam mengembangkan sifat-sifat anak yaitu:
1.      Teach (mengajarkan)
Adalah mengajarkan kepada anak remaja tentang bagaimana beraklak baik. Aklak baik merupakan aspek penting kehidupan dan sukses serta sebagian hidup manusia bergantung pada bagian dalam dirinya, bukan pada harta, bukan pula pada kecantikan atau ketampanan luar, dengan menerapkan peraturan dasar kehidupan; sikap amanah atau layak dipercaya, rasa hormat, tanggung jawab, sikap adil, rasa peduli dan kasih sayang serta menjadi warga negara.
a.       Pujian efektif
           Kombinasi pujian, alasan dan konsekuensi positif, bertujuan agar suatu perilaku spesifik bertambah kuat.
Contoh: membantu membereskan meja makan tanpa disuruh.
b.      Pengajaran preventif
           Metode mencegah timbulnya kesulitan dengan cara mengajarkan remaja hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan  meminta remaja berlatih sebelum mengalami situasi tertentu yang berpotensi menimbulkan masalah.
Conto: mengajarkan anak anda dengan cara menolak jika teman-temannya mendesak dia untuk minum-minuman keras.
c.       Pengejaran korektif
           Membantu mengidentifikasi perilaku remaja yang kurang baik dan membimbing remaja menuju perilaku yang lebih pantas.
Contoh: remaja yang menempuh pilihan yang buruk dan harus memperbaiki masalah yang timbul akibat pilihannya.
d.      Pengajaran kendali diri
           Membantu orang tua dan anak remaja untuk mengendalikan emosi dalam situasi ketika marah atau kacau.
2.      Enforce (memperkukuh)
Berusaha secara teratur dan terus menerus mencari kesempatan berbicara dengan anak remaja tentang karakter, kewajiban moral yang harus di hadapi atau memperkuat remaja dalam pilihannya dengan memberikan pujian mana kala ia menentukan pilihan yang bagus dan menjatuhkan komsekuensi jika pilihan tidak sesuai dengan prinsip karakter.
3.      Advocate (memperjuangkan)
Pantang mengendalikan keyakinan mengenai kekuatan akhlak untuk membuat hidup lebih baik.
Contoh: memberikan kaki pada keset sebelum anda masuk kerumah menunjukkan bahwa orang tua punya perhatian terhadap keadaan rumah dan anggota keluarga lainnya.
4.      Model (melakukan atau memberi contoh)
Dimana orang tua harus memberikan contoh sikap atau perilaku yang baik terhadap anaknya, apabila orang tua sengaja atau tidak sengaja pada saat berperilaku tidak baik anak tersebut bisa meniru perilaku orang tua tersebut.
   Menurut Sopian (2008) tugas-tugas orang tua meliputi :
a)      Menjadi pembicara dan pendengar yang baik.
Komunikasi yang baik adalah penting untuk mencapai tujuan-tujuan sebagaimana yang diharapkan. Apalagi dalam hubungan komunikasi antara orang tua dan anak. Karena itu, orang tua harus mampu menjadi seoarang pembicara (komunikator) sekaligus pendengar (komunikan) yang baik.
b)      Menciptakan suasana rumah yang menyenangkan.
c)      Kepribadian positif dan berhubungan kasih sayang.
Menunjukkan toleransi sehingga anak mengetahui bahwa orang tua dapat menyetujui keinginan anak. Usahakan mencari hal-hal yang dapat disetujui oleh orang tua dan anak.
d)     Menjadi teman pendamping bagi anak
Menjadi teman pendamping berarti menciptakan hubungan hangat dan akrab dengan anak. Hal ini bisa berjalan dengan baik apabila ada rasa saling percaya antara orang tua dengan anak, sebab secara langsung hal ini mempengaruhi nilai hubungan baik dan komunikasi antara kedua belah pihak.
e)      Memberi tuntutan dalam memberikan tugas pekerjaan pada anak.
Bekerja mempunyai arti besar bagi perkembangan kebutuhan dan harga diri. Kecakapan-kecakapan yang bisa dipelajari dari kebiasaan kerja antara lain: konsentrasi, ketekunan, ketepatan melatih bagaimana membuat keputusan dan ketepatan melatih untuk dapat berdiri sendiri tanpa pengawasan orang tua.
f)       Memberi sangsi atau hukuman pada anak
Seandainya anak tidak mengindakan perintah atau peraturan, berilah peringatan terlebih dahulu sebelum memberikan hukuman. Peringatan sebaiknya diberikan sekali atau dua kali, bila tidak diperhatikan berilah sangsi yang jelas. Jelas mengenai kesalahan yang dibuat maupun sangsi yang akan di berikan.
g)      Memberikan penghargaan dengan hadiah atau pujian.
Memberikan penghargaan dengan hadiah karena prestasi maupun keberhasilan atau ketekunannya dalam melakukan suatu tugas pekerjaan adalah sangat baik bila dilakukan. Sebab pemberian hadiah atau penghargaan dapat menimbulkan rasa bangga, kontrol diri, dan mempererat hubungan dengan anak. Pemberian hadiah tidak selalu dengan barang bisa juga dengan kata-kata pujian.

Hubungan Pola Asuh Keluarga Dengan Terjadinya Gejala Depresi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Dewasa ini berbagai bentuk pelanggaran moral yang dilakukan oleh remaja banyak dijumpai di masyarakat dimana salah satu penyebabnya adalah perubahan pola asuh dalam keluarga (Hawari, 2005). Pola asuh orang tua adalah pola orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya dalam memberi perlindungan ddan mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari (Baumrind, 2003). Menurut E.B.Hurlock saat ini terdapat tiga metode yang umum digunakan orang tua dalam mendidik anaknya, yaitu pendekatan secara otoriter/dipaksakan, secara permisif/serba membolehkan dan secara demokratis/kesamaan. Oleh karena itu pola asuh orang tua yang baik sangat diperlukan karena masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Karena pada masa ini remaja mengalami banyak perubahan pada emosi, perubahan pada fisik atau tubuh serta perubahan pada pola perilaku, minat dan nilai-nilai yang ada pada dirinya (Hurlock, 1980). Dan perubahan pada meningginya emosi terutama disebabkan karena remaja berada dibawah tekanan sosial dalam menghadapi kondisi-kondisi baru tersebut. Masa ini sering disebut juga masa “storm and stress” atau masa “tekanan dan badai”. Sebagian besar dari remaja mengalami ketidakstabilan emosi dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Dan permasalahan-permasalahan yang sering timbul pada masa remaja yang merupakan pemicu depresi antara lain adalah masalah hubungan dengan orang lain, baik dengan orang tuanya maupun dengan teman sebayanya (Goleman,1997). Remaja yang mengalami depresi seringkali tidak mampu atau tidak mau membicarakan kesedihan mereka dan juga tidak mampu menyebut perasaan mereka dengan tepat Ketidakmampuan orang tua mengenali masalah anaknya menyebabkan banyak remaja yang akhirnya mengalami kegagalan dalam penyelesaian masalah yang mereka hadapi. Pada akhirnya banyak remaja yang mengalami depresi .
Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari 39.000 orang, menemukan bahwa laju depresi pada remaja lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa. Di Jerman, pada tahun 1914, meningkatnya depresi sangat erat kaitannya dengan peristiwa politik, dan orang dewasa yang mengalami depresi pada saat itu hanya menunjukkan angka 4-14 persen, sedangkan selebihnya dialami oleh remaja. Di Amerika pada tahun 1955, orang dewasa yang mengalami depresi hanya menunjukkan angka 6 persen, sedangkan selebihnya dialami oleh remaja. Kecenderungan yang sama juga terjadi di Puerto rico,Canada, Italia, Jerman, prancis, Taiwan, Libanon, Selandia Baru, dan Beirut (Goleman, 1997). Penelitian yang baru saja dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa lebih dari separuh penduduk Ameika mengalami depresi karena perjalanan hidup mereka. Angka yang tertinggi terjadi pada remaja dan angka it uterus meningkat (Meier, 2001). Sedangkan di Indonesia belum ada catatan pasti tentang jumlah remaja yang mengalami depresi. Menurut data riset kesehatan dasar tahun 2007 yang diadakan Departemen Kesehatan RI, gangguan mental emosional (depresi dan anxietas) dialami sekitar 11,6% populasi indonesia (24.708.000 orang) yang usianya diatas 15 tahun. Untuk jakarta penderita yang mengalami depresi lebih tinggi yaitu 14,6%. Sementara itu untuk gangguan jiwa berat, sebanyak 0,48% dari populsi DKI Jakarta (1.065.000 orang) mengalami skizofrenia dan lain-lain. Adapun angka rata-rata dunia adalah 0,5-1%. Tingginya depresi di kota besar salah satunya disebabkan gaya hidup masyarakat kota yang individual. Dari data riset kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan tahun 2007 memperlihatkan bahwa prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia adalah sebesar 4,6‰. Prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (20,3‰) yang kemudian secara berturut turut diikuti oleh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (18,5‰), Sumatera Barat (16,7‰), Nusa Tenggara Barat (9,9‰), Sumatera Selatan (9,2‰). Prevalensi terendah terdapat di Maluku (0,9‰). Prevalensi nasional Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur lebih dari 15 Tahun adalah 11,6% (berdasarkan Self Reported Questionnarie). Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi Gangguan Mental Emosional Pada Penduduk Umur lebih dari 15 Tahun diatas prevalensi nasional, yaitu secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional tertinggi adalah Luwu Timur (33,7%), Manggarai (32,4%), Aceh Selatan (32,1%), Purwakarta (32,0%), Belitung Timur (31,0%), Banjarnegara (30,5%), Boalemo (29,9%), Cirebon (29,9%) dan Kota Malang (29,6%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Gangguan Mental Emosional terendah adalah Yahukimo (1,6%), Pulang Pisau (1,7%), Karimun (1,9%), Jayapura (1,9%), Sidoarjo (1,9%), Tabalong (2,1%), Maluku Tengah (2,4%), Kota Baru (2,4%), Kudus (2,4%), dan Muaro Jambi (2,4%). (http://www.ppid.depkes.go.id).
Para ahli mengemukakan (Gunarsa dan Gunarsa, 1995; Helm dan Turner, 1995; Papalia, Olds dan Feldmand, 1998) mengemukakan bahwa pola asuh dari orang tua amat mempengaruhi keperibadian dan perilaku anak. Kaitan antara gaya pengasuhan orang tua dengan perkembangan sosiomosional anak, lebih majemuk sifatnya. Gaya pengasuhan orang tua yang serba membolehkan sangat merugikan bagi anak. Anak akan menjadi impulsif dan mudah frustasi, setelah dewasa mereka juga sulit menguasai emosi dan tidak memiliki rasa tanggung jawab serta tidak mampu memimpin. Sedangkan, orang tua yang otoriter cenderung mempunyai anak yang secara sosial tidak kompeten, jarang mengambil inisiatif dalam interaksi sosial, harga diri mereka juga rendah. Mereka juga merasa bahwa kontrol yang ketat terhadap mereka adalah karena mereka belum mampu bertanggung jawab (Sujiono, 2005). Sedangkan rumah tangga yang demokratis ditandai dengan kebebasan dengan peraturan, anak memiliki kebebasan untuk memilih dan akan mengalami konsekuensi dari setiap perilaku yang melanggar peraturan. Sebaliknya remaja memperlihatkan sikap muram, marah, tidak sabar dan berang terutama kepada orang tua mereka. Hal tersebut membuat orang tua mereka merasa sulit memberikan dukungan omosional dan bimbingan yang benar-benar di butuhkan oleh remaja yaitu putus cinta, mendapatkan nilai prestasi yang buruk di sekolah, konflik dengan teman dan masih banyak lagi permasalahan lain pada remaja yang dapat menimbulkan depresi. Permasalahan-permasalahan yang sering timbul pada masa remaja yang merupakan pemicu depresi antara lain adalah masalah hubungan dengan orang lain, baik dengan orang tuanya maupun dengan teman sebayanya (Goleman,1997). Remaja yang mengalami depresi seringkali tidak mampu atau tidak mau membicarakan kesedihan mereka dan juga tidak mampu menyebut perasaan mereka dengan tepat.
Masa remaja merupakan masa yang rentan terhadap masalah yang dihadapi, padahal disisi lain remaja merupakan generasi penerus bangsa, calon pemegang estafet kepemimpinan bangsa di masa yang akan datang. Pola asuh orangtua turut membentuk dasar kepribadian seseorang, apakah akan menjadi seorang yang yang memiliki kepribadian yang kokoh atau rapuh sehingga mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap stresor (Suwanto, 2009). Dan pola asuh orang tua seharusnya adalah suatu pola atau sistem yang diterapkan dalam menjaga, merawat dan mendidik seorang anak yang bersifat relatif yaitu sifatnya menyesuaikan keadaan dan konsisten dari waktu ke waktu. Karena pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak dari segi positif atau negatif (Lien Laura, 1989). Karena pada masa remaja juga secara kejiwaan terjadi pergolakan yang hebat. Pada masa ini, seorang remaja mulai dewasa mencoba kemampuannya, disatu pihak ia sudah merasa dewasa, sedang dilain pihak belum sanggup dan belu ingin menerima tanggung jawab atas semua perbuatannya. Ego sentrik bersifat menantang terhadap otoritas, senang berkelompok, idealis adalah sifat-sifat yang sering terlihat. Seseorang yang mengalami banyak gangguan pada masa ini, bila mengalami masalah pada masa sesudahnya mungkin akan mengalami gangguan-gangguan jiwa (Yosep, 2007). Oleh karena itu keterlibatan pola asuh orang tua sebagai orang yang terdekat di dalam keluarga dan orang yang dapat mengerti perasaan yang sedang dialami anaknya sangat diperlukan. Hal ini perlu, karena dengan demikian diharapkan dapat secara serius memberikan dukungan kepada anak. Salah satunya dengan menggali kecenderungan pola asuh keluarga, sehingga bisa dikaji hal-hal yang perlu dilakukan untuk penatalaksanaan dan pola asuh yang paling sesuai dengan yang mempunyai prinsip-prinsip tatalaksana perilaku yang berbeda dengan pola pengasuhan umumnya.
Berdasarkan permasalahan diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pola asuh keluarga dengan terjadinya gejala depresi pada remaja di kelas 3A SMK YP Pare.

1.2        Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Hubungan Pola Asuh Keluarga dengan Terjadinya Gejala Depresi Pada Remaja di SMK Kelas 3A????????

1.3        Tujuan Penelitian
            1.3.1     Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pola asuh keluarga dengan terjadinya gejala depresi pada remaja di SMK???
            1.3.2     Tujuan Khusus
1.3.2.1.   Mengidentifikasi Pola Asuh Keluarga dengan Terjadinya Gejala Depresi Pada Remaja di Kelas 3a ??????
1.3.2.2.   Mengidentifikasi Terjadinya Depresi pada Remaja di Kelas 3A S?????
1.3.2.3.   Mengidentifikasi Hubungan Pola Asuh Keluarga dengan Terjadinya Gejala Depresi Pada Remaja di Kelas 3A ?????????
1.4        Manfaat Penelitian
            1.4.1     Bagi  Responden
Menjadi masukan dan informasi tentang fungsi dari orang tua dalam memberikan peran asah, asuh, dan asuh pada anggota keluarganya.
            1.4.2     Bagi  Institusi Terkait
Memberikan masukan tentang peran serta orang tua dalam memberikan pola asuh yang baik.
            1.4.3     Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi ilmiah dan dapat digunakan sebagai data penelitian selanjutnya.
           1.4.4     Bagi Peneliti
                   Memberikan pengalaman nyata dalam proses penelitian untuk mengembangkan ilmu    pengetahuan.